www.eternamedica.com
Login
News
20 Januari 2014
BEKAS JERAWAT FILIPINA
Ada Jerawat, selalu timbul masalah baru,,Bekas jerawat.., Cari tau disini ya.., gimana kelanjutan dari Jerawat Filipin menuju Level Bekas Jerawat Filipin.., :D detail

20 Januari 2014
JERAWAT FILIPINA
WoooowwwWwww, Jerawat filipina, Jenis Jerawat baru ya..??? Jerawat Indonesia saja banyak, ada lagi jerawat Filipin..,hahaha yuk intip sedikit tentang Jerawat Filipin.!! detail

30 Oktober 2013
Usia Tepat Memulai sikat gigi.
Sejak kapan kita sebagai orang tua mulai memperkenalkan sikat gigi? detail

11 Oktober 2013
Kopi & Jerawat
Apakah kopi boleh diminum oleh penderita jerawat? Ternyata banyak temuan baru dibalik kelezatan minuman yang satu ini detail

» index berita

ARTIKEL UTAMA

MAUT MENGINTAI DI SALON KECANTIKAN
 
Bak 'warung padang', tidak sulit mencari salon kecantikan di kota-besar
seperti Jakarta. Dari yang di gedung bertingkat sampai garasi rumah atau
pun hanya sekedar tukang cukur di pinggir jalan. Namun, seiring dengan
menjamurnya salon, penyakit menular yang cukup berbahaya pun ternyata
ikut kebagian jatah.
Dalam suatu pertemuan ilmiah tahunan American Academy of Dermatology
tanggal 20 Maret 1999, di New Orleans, AS, Shelly A. Sekula M.D.,
spesialis kulit yang juga ketua komisi legislasi Masyarakat Dermatologi
Texas, mengingatkan adanya bahaya penularan penyakit dari salon
kecantikan dan barber shop.
Ada sederetan jenis penyakit menakutkan dibeberkannya. Bahkan di
antaranya ada penyakit yang bisa membawa maut. Dari penyakit menular
akibat bakteri, jamur, parasit, virus sampai kanker. Tak ketinggalan
juga hepatitis atau penyakit lever, bahkan AIDS.
Sejak Hepatitis dan AIDS dianggap sebagai penyakit yang berbahaya,
apalagi setelah terjadinya peningkatan drastis jumlah penderita penyakit
yang ketularan lewat darah (bloodborne), yaitu lewat jarum suntik atau
transfusi darah, maka sekitar tahun 80-an, banyak diadakan pembaharuan
dalam undang-undang kesehatan di AS.
Kewaspadaan universal
Sudah 10 tahun akhir ini, Center of Disease Control (CDC), badan yang
salah satu tugasnya mengatur regulasi standar pelayanan kesehatan di
Amerika, gencar mengeluarkan imbauan diterapkannya kewaspadaan universal
terhadap darah, cairan dan jaringan tubuh manusia. 'Bahan-bahan' ini
harus dianggap sebagai materi yang berpotensi menularkan penyakit.
Peringatan ini kemudian diperkuat dengan dibentuknya Occupational Safety
and Health Administration (OSHA), yaitu suatu badan yang menerapkan
petunjuk standar kerja bagi orang-orang yang bekerja di bidang
kesehatan. Di sana dokter, perawat, paramedis, sampai bagian kebersihan
bisa kehilangan pekerjaan bila lisensi mereka tak mencantumkan stempel
OSHA.
Ini kemudian berlaku pula bagi profesi lain di luar bidang medis. Saat
ini sudah termasuk polisi, petugas kamar mayat, penggali liang kubur,
tukang sampah rumah sakit, dll. Namun sayangnya, persyaratan ini belum
sampai pada tenaga kerja di bidang kecantikan, seperti penata rambut,
tukang cukur, para ahli kecantikan, juru tato dan juru tindik anting
atau giwang pada telinga, hidung, mulut atau bagian tubuh lainnya.
Menurut Sekula, kalau mereka ini tidak diwajibkan mengenal dan
menerapkan kewaspadaan universal tadi, secara tidak sadar mereka
membahayakan klien maupun dirinya sendiri. Hepatitis B dan C misalnya,
potensial menular pada mereka, atau ditularkan oleh mereka. Setiap
tahun, sekitar 100.000 orang tertular Hepatitis B, dan antara 28.000 -
140.000 terkena hepatitis C. Karena itu, Sekula menghimbau para
legislator pembuat undang-undang pusat maupun negara bagian, agar OSHA
mendesak profesi yang belum terlibat itu mulai mempraktekkan prosedur
standar kewaspadaan universal yang istilah bakunya universal
precautions. Di samping itu ia juga mengimbau agar salon-salon lebih
memperhatikan kesehatan karyawan serta kebersihan peralatan salonnya.
Pihak pengunjung salon juga diimbaunya agar lebih kritis dan waspada.
Bisa "ngendon" di mana-mana
Kecemasan Sekula cukup beralasan. Pada daftar penyakit yang disusunnya,
yang pertama adalah penyakit-penyakit menular karena virus. Contohnya,
kutil, (arts atau verucca), hepatitis B, C dan AIDS. Berbeda dengan
hepatitis A yang ditularkan lewat makanan (foodborne), virus
penyakit-penyakit ini bisa ditularkan hanya lewat luka kecil pada kulit.
Jadi, tak harus ada darah. Serum darah bisa meleleh keluar cukup dari
lecet-lecet yang tak kasat mata (mikrolesi). Seandainya cairan yang
mengandung virus-virus tadi menempel atau bersinggungan pada kulit lain
yang kebetulan juga lecet, maka penularan secara bloodborne sudah
terjadi.
Celakanya, proses penularan ini tidak menuntut terjadinya kontak
langsung dari kulit ke kulit. Virus ini, terutama penyebab hepatitis B
dan C, mampu bertahan hidup hingga seminggu di luar tubuh manusia.
Mereka bisa ngendon di mana-mana. Bisa di handuk, gunting, pisau cukur,
sandaran kepala, kursi salon serta tempat-tempat lain yang tidak pernah
tersentuh sabun cuci. Jadi benda-benda tadi, di luar manusianya sendiri,
adalah sumber penularan juga. Berarti bukan hanya lewat jarum suntik
atau transfusi saja penyakit ini bisa ditularkan. Ini suatu bukti lagi,
bahwa virus hepatitis B itu 100 kali lebih menular daripada HIV penyebab
AIDS.
Selanjutnya, infeksi karena bakteri menempati urutan kedua. Yang ini
lebih mudah lagi. Tak perlu ada luka, cukup dengan bersinggungan,
penularan bisa terjadi. Misalnya, lewat media perantara seperti
peralatan salon atau malah bisa lewat udara.
Urutan berikutnya, jamur. Seperti halnya infeksi bakteri, penularan bisa
terjadi hanya bersenggolan dengan media perantara atau udara.
Yang keempat, parasit. Contoh yang paling jelas, kutu. Penularan terjadi
sama seperti 'teman-teman'nya di atas tadi. Cuma bedanya, kutu mampu
bertahan hidup lebih lama di media perantara. Bahkan, bisa sampai
beranak pinak dulu di sana sampai menginfeksi ke kulit manusia.
Salah Alamat
Daftar selanjutnya menyangkut masalah teknis, yaitu kekurangpahaman atau
kurang terampilnya pekerja salon dalam menangani pemakaian zat-zat kimia
yang dipakai untuk keperluan kosmetik. Contohnya saja, penggunaan cairan
pengriting rambut, zat pewarna rambut, chemical peeling, dll. Pemakaian
yang salah atau kurang indikatif bisa menimbulkan masalah rambut dan
kulit yang serius, yang ujung-ujungnya malah merusak kesehatan rambut
atau kulit.
Terakhir, penyakit-penyakit akibat penanganan yang 'salah alamat'.
Mereka menangani kasus yang seharusnya ditangani dokter kulit. Ini bisa
amat berbahaya, terlebih untuk kasus-kasus dini kanker kulit. Misalnya
saja masalah tahi lalat. Menghilangkan bintik hitam itu sebenarnya
adalah tugas dokter kulit atau ahli tumor. Apalagi untuk jenis bintik
hitam yang membesar alias tahi lalat yang mengganas yang dikenal dengan
nama, melanoma maligna. Jenis ini termasuk kanker kulit yang amat ganas
dan mematikan. Dokter pun kadang gagal menanganinya, apalagi bila
terlambat dideteksi.
Memang ada penyakit-penyakit yang tidak mematikan, tapi seandainya
terlambat ditangani dokter, kasus yang sederhana pun bisa jadi rumit.
Misalnya saja penyakit jamur pada kuku dan rambut. Jamur pada kuku kerap
kali sulit disembuhkan. Kalau pun berhasil membutuhkan waktu dan tentu
biaya yang lebih besar. Sedangkan jamur yang tumbuh subur di kepala bisa
merontokkan rambut sampai botak! Penyembuhan penyakit-penyakit kulit
akibat infeksi bakteri, memang lebih mudah. Cuma saja, kadang pasien
perlu diinapkan dulu beberapa hari di rumah sakit.
DPR
Kekhawatiran Dokter Sekula mestinya menjadi kecemasan kita juga.
Bayangkan saja bisnis kecantikan di Indonesia boleh dikatakan sangat
mudah. Tanpa peraturan bertele-tele, cukup dengan ikut kursus satu-dua
bulan, atau cuma nebeng nonton kegiatan penata rambut seminggu atau dua
minggu, kita sudah sah-sah saja memiliki salon atau "tempat potong
rambut". Tempat bisa pilih: mulai dari gedung bertingkat sampai yang di
tepi-tepi jalan atau "dpr", di bawah pohon rindang. Belum lagi ada salon
atau tukang cukur keliling dari RT ke RT atau RW ke RW. Berarti semakin
luas pula sumber penularan.
Jadi apa yang harus kita lakukan? Salah satunya adalah tetap
mempertahankan program pemerintah yang kini sedang berjalan, seperti
vaksinasi hepatitis B misalnya. Vaksinasi ini sebaiknya tidak hanya bagi
bayi atau balita saja, tapi juga dilakukan kita semua yang dulunya belum
pernah divaksinasi atau yang sudah pernah tapi antibodinya belum
terbentuk.
Dari pihak petugas salon atau tukang cukur sendiri juga harus mampu
melindungi diri sendiri. Bukan tidak mungkin klien yang kelihatan
rupawan atau cantik mengidap salah satu atau beberapa penyakit di atas
tadi. Misalnya saja ada yang mengidap AIDS. Walau mereka kelihatan
sehat-sehat saja, tapi bisa saja darahnya sudah dicemari virus HIV yang
mengerikan itu. Jadi bukan tidak mungkin mereka bisa menulari Anda.
Jadi untuk mengatasinya, sebagai petugas salon, rajinlah mencuci bersih
tangan sendiri, maupun peralatan salon, seperti gunting, pisau cukur,
handuk, termasuk, kursi salon, dipan tempat cuci rambut. Sebaiknya
lakukan ini setiap kali selesai melayani seorang klien. Kedengarannya
memang merepotkan, tapi kalau sudah terbiasa Anda tidak akan
merasakannya lagi.
Lebih baik lagi kalau upaya berjaga-jaga ini bisa melibatkan para
penyelenggara kursus kecantikan, sehingga akan dihasilkan
pekerja-pekerja salon yang benar-benar terampil dan profesional. Apalagi
kalau bisa bekerja sama dengan institusi kesehatan seperti DepKes atau
Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Bersama mereka bisa ditambahkan satu mata
pelajaran lagi yang berkaitan dengan perilaku sehat bagi calon-calon
pekerja salon.
Sedangkan sebagai klien, atau pengunjung salon, jangan segan-segan untuk
bertanya atau bahkan menegur bila peralatan salon tampak meragukan
kebersihannya. Perhatikan juga 'jubah' salon yang dililitkan pada leher
itu apakah terlihat kotor, handuk kelihatan bekas dipakai atau sandaran
kepala dan kursi yang nampak kumal. Bila dari pandangan mata saja sudah
kelihatan 'tidak beres', sebaiknya Anda buru-buru meninggalkan tempat
itu dan cari salon yang lebih bersih.
Bila saja selama pelayanan Anda terluka akibat gunting atau pisau cukur,
segera periksakan darah Anda. Khususnya terhadap hepatitis B dan C.
Dengan demikian Anda akan merasa lebih tenang. Selain tetap tampil
cantik dan cakep, kesehatan juga terjaga baik. (C.Kristijanto A., dokter
di Pusat Dermatologi dan Andrologi Giessen, Jerman)
 
Dimuat di Majalah Intisari edisi Februari 2000
Search
Search:
Shopping Cart
shopping cart
Information
Others